Antara Gol Berbau Offside, Laga Final, dan Rating Televisi
Kekalahan Semen Padang atas Arema pada leg kedua semifinal Piala Presiden 2017 hari Minggu lalu ternyata masih menyisakan cerita. Dalam pertandingan yang dimenangkan oleh Arema dengan skor 5-2 tersebut, pihak Semen Padang yang diwakili oleh manajer tim, Win Benardino, menilai kalau dua gol Arema seharusnya tidak disahkan oleh wasit lantaran Gonzales sudah terlebih dahulu berada pada posisi offside. Gol yang dimaksud adalah gol pertama dan keempat Arema.
Saya sendiri sebelumnya tidak percaya saat wasit mengesahkan gol pertama Gonzales saat itu. Karena, saya melihat dengan yakin kalau sang striker benar-benar offside. Meskipun pada akhirnya saya tetap mensyukuri saat gol itu disahkan (karena saya penduduk Kota Malang, hehe).
Jika melihat tayangan ulang terjadinya kedua gol tersebut, maka akan terlihat kalau posisi El Loco memang sudah offside. Mungkin yang akan jadi perdebatan adalah gol keempat sebab posisi pengumpan (Dedik) tidak terlalu jelas apakah sudah mendahului barisan bek Semen Padang atau masih sejajar. Jika masih sejajar, maka gol tersebut seharusnya tidak disahkan karena Gonzales sudah berdiri beberapa langkah di depan pemain belakang terakhir Kabau Sirah.
Dugaan pun menyeruak kalau Arema mendapat keuntungan (atau diuntungkan?) dari wasit karena mengesahkan dua gol itu. Apalagi jika melihat posisi wasit yang tidak berdiri segaris saat terjadinya gol keempat Arema (lihat gambar atas kedua), maka wajar jika asumsi itu muncul.
Pelatih Aji Santoso pun menyangkal tudingan tersebut. "Gol pertama, ada di aturan FIFA pasal 11. Karena deflect, meski posisi Gonzales offside, posisinya jadi on," ungkapnya seperti yang dikutip dari situs Bola.net.
Padahal jika kita benar-benar merujuk pada Laws of The Game FIFA, meskipun hasil deflect, posisi Gonzales tetap harus dinilai offside, gol seharusnya dianulir, dan saya akan setuju dengan keputusan tersebut. Sebab, yang dinilai bukanlah deflect atau tidaknya, melainkan sentuhan terakhir pemain sendiri/satu tim (lihat gambar atas pertama).
Baca Juga: Agresifitas Arema yang Mampu Balikkan Ketertinggalan dari Semen Padang
Tidak hanya itu, keluhan juga tertuju kepada keberadaan Iwan Budianto yang merupakan Ketua Panpel Piala Presiden di sekitar bangku wasit. Win menilai kalau Iwan tidak seharusnya berada di area tersebut tetapi duduk di bangku VVIP yang sudah disediakan. Hal ini ditambah bahwasanya laki-laki yang juga menjabat sebagai anggota PSSI itu hanya turun ke lapangan saat laga Arema itu saja. Hal yang tidak ia lakukan di pertandingan-pertandingan lainnya.
Selain pihak internal Semen Padang, dua keluhan yang sama juga dilontarkan oleh tokoh muda asal Minang, Andre Rosiade, menyusul kekalahan tim kebanggaannya di Stadion Kanjuruhan.
Saya, sebagai penggemar sepakbola dan pendukung Arema, bisa memahami berbagai kekecewaan dan prasangka dari kubu Kabau Sirah. Apalagi sebelum menjabat di PSSI, Iwan Budianto dikenal sebagai orang penting Arema yang selalu hadir di bangku pemain saat timnya berlaga. Tetapi saya tidak bisa mempercayai itu karena sejauh ini belum ada foto yang memperlihatkan kejadian itu dan sumber mengenai berita ini juga sangat sedikit.
Tapi dengan kejadian ini, lagi-lagi, dugaan-dugaan akan selalu bermunculan. Baik dari pihak lawan atau pendukung tim sendiri seperti saya misalnya. Benarkah ada praktek suap wasit? Khususnya di laga Arema vs Semen Padang? Tapi siapa yang menyuap? Iwan Budianto?
Saat menjabat sebagai CEO Arema, saat sering duduk di bangku pemain cadangan beserta deretan tim pelatih, sering terdengar kabar burung kalau "IB" menyuap wasit, bahkan menuduh kalau dia lah sosok mafia dalam pesepakbolaan Indonesia. Desas-desus itu semakin kencang saat momen pengambilan sumpah wasit Piala Presiden 2017 awal Februari lalu Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, menyebut Iwan Budianto pernah menyogok wasit. Walau pada akhirnya hal itu sudah diklarifikasi kalau ucapan itu hanya bersifat guyonan semata.
Tidak selesai sampai di situ, kekalahan Persib atas PBFC di partai semifinal lainnya juga turut berkontribusi atas dugaan "diuntungkannya Arema oleh wasit". Hal ini disampaikan oleh Andre Rosaide. "Jadi, dikhawatirkan, jika yang main di final adalah PBFC dan Semen Padang, mereka khawatir rating akan rontok. Jika memang demikian adanya, ini jelas salah besar. Jangan korbankan sportifitas dengan industri." tegasnya seperti yang dikutip dari situs Jurnas.
Hal ini bisa saja terjadi karena sejak partai semifinal dilangsungkan, pasti ekspektasi kebanyakan penggila bola Indonesia adalah melihat Persib melawan Arema di laga puncak. Melihat keduanya merupakan tim besar di Indonesia dengan basis supporter fanatiknya masing-masing dan sejarah rivalitas antar keduanya, animo masyarakat untuk menyaksikan keduanya pasti sangat besar. Dan ini akan berdampak positif untuk rating televisi dan pemasukan pihak penyiar tentunya. Meskipun demikian, tidak ada yang bisa menjamin bahwa ini (kekhawatiran rating anjlok) sepenuhnya benar 100%, termasuk saya sebagai penulis artikel ini.
Dengan kombinasi tiga poin di atas (gol offside, Iwan Budianto di sekitar bangku wasit, dan kekalahan Persib atas PBFC), sangat wajar jika ada pihak yang berasumsi kalau Arema diuntungkan wasit atau ada pihak yang menyuap wasit untuk menguntungkan Arema. Bisa dipahami kalau Semen Padang merasa sangat dirugikan. Kalah dengan kebobolan 5 gol setelah unggul 3 gol (satu kandang dan dua tandang) dan tidak pernah kebobolan sejak fase grup hingga semifinal leg pertama merupakan hal yang sangat menyakitkan.
Tapi di samping itu semua, hal terpenting saat ini adalah bersama-sama memberantas praktek suap wasit jika itu memang benar terjadi di pesepakbolaan Indonesia. Jika itu masih terus berlanjut, maka sepakbola Indonesia masih jauh dari kata "membanggakan" seperti yang banyak diidam-idamkan insan sepakbola di negeri ini. Sehingga tidak akan ada yang patut dibanggakan jika memang kemenangan diraih hasil dari menyuap wasit.
Sumber; Bola, Jurnas, Juara, Pandit Football
Sumber foto; harianhaluan.com, okezone.com


Tidak ada komentar