Apa yang Sebenarnya Atletico Madrid Ingin Lakukan di Bernabeu?
Mimpi Real Madrid untuk menjadi tim pertama yang memenangi Liga Champions secara back-to-back semakin dekat berkat kemenangan meyakinkan 3-0 atas Atletico Madrid dini hari tadi Waktu Indonesia Barat (03/05). Tak perlu waktu lama sejak sepak mula, Cristiano Ronaldo membuka skor di menit '10 melalui sundulan kepalanya. Kapten timnas Portugal itu menjadi bintang lapangan di pertandingan ini. Dia melesakkan dua gol tambahan di babak kedua (menit '73 & '86) guna melengkapi golnya menjadi Hattrick.
Jika Madrid begitu tajam dengan gelontoran tiga gol tersebut, Atletico justru sebaliknya. Jangankan mengharap sebiji gol dari mereka, selama 90 menit + 3 menit injury time hanya 4 percobaan tembakan saja yang berhasil mereka lancarkan dan hanya satu yang tepat sasaran. Ironisnya, 2 dari 4 tembakan itu dilakukan oleh Diego Godin yang notabene adalah bek tengah mereka. Lalu, di mana para penyerang Atletico? Di mana Griezmann? Apa yang salah sehingga berbagai catatan negatif tersebut muncul?
Main Bertahan atau Nggak, sih?
"Mau main bertahan atau nggak, sih?". Mungkin ini adalah pertanyaan yang akan saya ungkapkan andai saya bisa bertanya kepada Diego Simeone, sang arsitek Atletico Madrid.
Secara subjektif, saya menilai kekalahan Atletico di kandang Madrid dini hari tadi adalah buntut dari ketidakjelasan strategi yang mereka mainkan di atas lapangan. Apakah akan bermain bertahan dengan menunggu di area pertahanan sendiri sembari menunggu momen untuk melakukan serangan balik seperti yang lumrah mereka lakukan, atau bermain menyerang, yang salah satu caranya, dengan menguasai bola, mendikte permainan, dan terus menekan pertahanan lawan.
Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya tetap akan menyertakan beberapa bukti objektif untuk mendukung pernyataan subjektif saya. Baik saya lanjutkan.
Kita tahu kalau Atletico lebih dikenal karena pertahanan solid ketimbang ketajaman penyerangan mereka. Tapi hal itu tak terlihat di pertandingan tadi malam.
Sejak dimulainya pertandingan, terlihat Simeone menginginkan anak asuhnya menutupi akses masuknya aliran bola ke gelandang Madrid (Casemiro, Kross, dan Modric). Hal ini akan menyisakan bek sayap sebagai satu-satunya opsi bagi bek tengah untuk mengumpan. Taktik ini sempat berhasil di menit-menit awal. Terbukti, Carvajal kesusahan untuk mengumpan ke depan atau tengah begitu juga Ramos dan Varane yang hanya mengumpan ke samping kiri dan kanan saja.
Gaya bertahan Atletico inilah yang tidak berjalan dengan baik. Padahal, langkah yang diambil Simeone sudah benar dengan tidak membiarkan aliran bola ke gelandang Madrid. Tapi tidak adanya kepadatan yang ditunjukkan di lini tengah mereka adalah kekurangan dari taktik Simeone tadi malam.
![]() |
| Gambar 1 : Grafis pertahanan Atletico Madrid saat melawan Real Madrid tadi malam. |
Jika dilihat grafis pertahanan Atletico saat bertandang ke Bernabeu di ajang La Liga kemarin (08/04), mereka memadati area tengah meskipun pressing di area sayap tetap dilakukan. Begitu juga yang mereka tunjukkan di pertandingan tandang Liga Champions terakhir mereka, saat melawan Leicester City, grafis pertahanan mereka menunjukkan kepadatan yang memenuhi area tengah tersebut. Inilah yang akhirnya membedakan gaya pertahanan Atletico dan juga hasil akhir pertandingan tadi malam dibanding dua laga tandang tersebut (Imbang 1-1 di kandang Madrid dan imbang 1-1 di kandang Leicester City).
![]() |
| Gambar 2 : Kepadatan di lini tengah Atletico Madrid saat bertandang melawan Real Madrid (08/04) lalu. |
![]() |
| Gambar 3 : Kepadatan yang sama juga ditunjukkan Atletico saat bertahan melawan Leicester City (18/04) |
Jika Atletico sudah terbiasa bermain dengan gaya bertahan seperti dua laga di atas, maka hal itu jugalah yang harusnya mereka terapkan di pertandingan semifinal leg pertama tersebut. Jadi, main bertahan atau nggak, sih?
Tidak hadirnya Juan Francisco Torres Belėn atau biasa dikenal Juanfran di pos bek kanan sangat berpengaruh bagi kedua tim asal Madrid tersebut. Bagi Atletico, sisi sayap kanan mereka tidak akan seimbang dengan sisi sayap kiri (Filipe Luis) baik dalam hal menyerang maupun bertahan. Sayangnya, bek kanan pelapis, Šime Vrsaljko, juga mengalami cedera. Praktis pilihan terakhir bagi Simeone adalah bek muda, Lucas Hernăndez. Usia yang masih muda dan jam terbang yang belum banyak, membuatnya tidak bisa berbuat banyak dalam menyerang dan bertahan.
Sedangkan bagi armada Los Blancos, hal ini justru menjadi titik penyerangan mereka. Dilansir situs Whoscored.com, sebanyak 46% proses serangan mereka berasal dari sisi kiri (sisi kanan Atletico) berbanding 22% dan 32% dari tengah dan sisi kanan lapangan.
Seperti yang saya tulis di atas, Atletico hanya mencatatkan 4 percobaan tembakan saja (1 on target) selama 90 menit. Lalu sudah bisa menebak siapa yang penampilannya kurang maksimal? Ya, Kevin Gameiro dan Antoine Griezmann. Tahu gak, siapa saja yang melepaskan empat tembakan Atletico Madrid tersebut? Bocorannya: bukan Gameiro dan Griezmann.
Gameiro dan Grizmann tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Lagi-lagi ini imbas dari strategi Atletico yang "tidak jelas" tersebut. Ketika berhasil menekan pemain lawan dan memenangkan bola, mereka malah sering melakukan kesalahan-kesalahan yang merugikan mereka sendiri. Di lain sisi, anak asuh Zidane tampil hebat, tak hanya ketika menyerang tapi juga saat bertahan. Hal inilah yang menyebabkan dua penyerang Perancis tersebut kurang mendapatkan suplai bola dan kesulitan dalam melakukan tembakan ke gawang.
![]() |
| Gambar 4 : Grafis umpan Real Madrid (kiri) dan grafis umpan Atletico Madrid (kanan) |
Rencana Atletico Madrid Tidak Sematang Real Madrid
Dari segala persiapan yang telah dipersiapkan oleh pelatih kedua tim, Simeone tidak mempunyai "plan B" ketika rencana mereka tidak berjalan sesuai rencana. Zidane memang mengincar gol cepat pada laga semalam dan itu berhasil mereka dapatkan. Hal itu menjadi pukulan bagi Atletico yang sebetulnya sudah bermain baik dengan gaya permainan bertahannya tersebut (menekan area tengah agar pemain lawan menyalurkan bola ke sisi lapangan).
Terlebih setelah itu, mereka lupa untuk menjaga kepadatan di lini tengah karena terlalu menekan ke sayap. Perlahan, Madrid juga mulai menemukan cara untuk menanggulangi pressing di area sayap yang dilakukan Atletico tersebut.
Koke, yang posisi naturalnya adalah seorang gelandang, dimainkan di sayap kanan alih-alih di pos naturalnya. Dia pun lebih banyak bergerak di wilayah half-space (wilayah di antara area sayap dan tengah lapangan) dan tidak memberi banyak tekanan kepada Marcelo. Kombinasi antara Koke yang sering meninggalkan pos aslinya (gambar 5) dan Lucas sebagai bek kanan kurang jam terbang mengakibatkan Madrid sering menyerang dari sisi yang dihuni Marcelo, Cristiano, dan Isco tersebut.
![]() |
| Gambar 5 : Heatmap pergerakan Koke |
***
Pertandingan semifinal leg pertama sudah selesai dan Atletico sudah terlanjur kalah. Ronaldo memang menjadi pahlawan, tapi andai saja Simeone punya rencana lain, mungkin Atletico bisa keluar dari tekanan dan kemudian meraih gol penyeimbang seperti yang mereka lakukan di ajang La Liga bulan April kemarin atau bahkan memenangkan pertandingan. Toh, Madrid hanya memimpin keunggulan 1-0 hingga menit '72.
Jadi, setelah membaca analisis ini, apa yang sebenarnya Atletico Madrid ingin lakukan di Bernabeu?
Sumber; Whoscored.com, FourFourTwo, Squawka.com






Tidak ada komentar