Breaking News

Penghakiman Untuk Jose Mourinho


Laga puncak final Liga Europa 2017 sudah di depan mata. Hanya tinggal menghitung beberapa jam saja, kita bersama akan disuguhi duel dari dua kesebelasan terbaik di kompetisi tim-tim eropa kasta kedua tersebut. Tim asal ibukota negara kincir angin, Ajax Amsterdam, akan ditantang sang lawan yang datang dari kota pelabuhan negeri Ratu Elizabeth, Manchester United.

Tanpa mengesampingkan penampilan impresif Ajax dengan barisan pemain mudanya, nampaknya malam nanti semua pasang mata akan memperhatikan penampilan Manchester United, tempat di mana Jose Mourinho berada. Mengapa demikian?

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu saya ingatkan kembali jika Manchester United, Anda akui atau tidak, adalah salah satu tim terbesar di dunia. Berlaga di Liga Europa (kompetisi kasta kedua Eropa) bukan merupakan kebiasaan mereka. Sudah jelas bahwa tampil di Liga Champions adalah sebuah target “minimalis” yang harus dicapai United setiap musimnya. Faktor inilah, yang kemudian, mendorong semua pecinta bola, baik itu fans atau haters MU, untuk menonton United bermain nanti malam dan, yang terpenting, untuk menghakimi si Jose Mourinho.

Jika Manchester United Kalah, Apakah Jose Mourinho Salah?

Anda sudah menemukan jawaban dari pertanyaan ini? Jika sudah, silakan simpan opini Anda terlebih dahulu dan jika belum, mari kita bahas sama-sama.

Musim ini bisa dibilang tidak terlalu bersahabat, baik untuk Manchester United dan Mourinho sendiri. United menghabiskan hampir sepanjang musim mereka di posisi 6. Menang, seri, atau kalah tak mengubah posisi United dari angka 6. Sepertinya MU memang berjodoh dengan si angka 6.
Sedangkan Mou, dia lebih akrab dengan kritikan perihal kebijakannya, aksi di pinggir lapangan, dan denda akibat protes-protes yang dianggap berlebihan.

Satu kebijakan Mou yang berpotensi memunculkan kritik adalah keputusannya untuk merelakan perburuan posisi empat besar dan memprioritaskan menjuarai Liga Europa guna tampil di Liga Champions musim depan. Dia “berani” menurunkan pemain pelapis saat United bersua dengan tim-tim besar, Arsenal dan Tottenham Hotspur. Tujuannya? Agar pemain reguler fit saat bermain di Liga Europa.

Penggemar MU tentunya jengah saat melewati masa-masa tersebut. Terlebih saat Danny Welbeck menjebol gawang mantan rekan setimnya dahulu, De Gea, untuk tim rival Arsenal.

Sekarang, pertanyaan terbesarnya adalah apakah Mourinho salah jika akhirnya MU gagal memenangi Liga Europa yang berimbas pada absennya mereka di Liga Champions musim depan? Suara mayoritas akan menjawab “iya”. Begitu juga dengan saya.

Sebelumnya, MU berada di posisi yang paling menguntungkan ketimbang tim-tim pemburu empat besar lainnya. Mereka punya dua jalan untuk menggapai Liga Champions, yaitu lewat posisi empat besar dan Liga Europa. Tapi dari segala keuntungan tersebut, MU malah gagal menampilkan performa menjanjikan di liga. Berbagai hasil minor mereka dapatkan. Sempat beranjak ke posisi 5, eh, Rooney dkk. lebih betah di posisi 6. Wajar jika Mourinho dikritik.

Sekali lagi, jika MU gagal meraih piala Liga Europa pertama mereka, maka Mourinho sudah hampir dipastikan bersalah dan imbang kontra Swansea adalah letak awal kesalahan Mourinho. Memang saat itu MU unggul 5 poin dari Arsenal di klasemen, tapi andai mereka memenangi pertandingan, maka langkah selanjutnya, setidaknya, akan lebih mudah (MU akan unggul 7 poin dari Arsenal). Apalagi saat itu mereka bermain di kandang sendiri melawan tim yang berjuang melewati zona degradasi.

Sejak saat itulah, Mourinho memutuskan untuk melakukan perjudian besar dengan memilih Liga Europa sebagai jalan untuk menuju Liga Champions musim depan. Seperti yang saya katakan, lolos ke Liga Champions adalah target “minimalis” Manchester United setiap musimnya dan jika sampai gagal memenuhi target itu musim ini, Anda sudah tahu siapa sosok yang harus disalahkan.

Lantas Jika Juara, Sudah Benarkah yang dilakukan Mourinho?

Jawabannya, bisa “iya” dan bisa “tidak”. Kenapa? Itu semua tergantung dari permainan United malam nanti.

Anda, penggemar Manchester Unite khususnya, masih ingat ketika Mou mengistirahatkan pemain kuncinya dalam duel melawan Arsenal? Bukan, bukan susunan pemain MU yang ingin saya tanyakan. Saya cuma penasaran bagaimana MU bermain di semifinal leg kedua kontra Celta Vigo. Itu adalah satu laga setelah laga kontra Arsenal. Bagaimana? Sudah ingat? Jika belum, baik akan saya ingatkan. Semoga ingatan saya kali ini tidak salah seperti saat itu.

Oke, Mou sudah mengistirahatkan beberapa pemain kunci untuk meghadapi laga ini. Oke, mereka unggul 1-0 di menit 17. Tapi kemudian apa? Perubahan gaya permainan khas Mourinho terjadi perlahan-lahan namun pasti, dan imbasnya gawang Romero kebobolan. Bally bahkan sampai harus dikartu merah oleh wasit karena tak mampu mengontrol emosinya tak lama setelah gol Celta Vigo tersebut terjadi.

Beruntung, sangat sangat beruntung momen comeback bersejarah United atas Munchen 1999 silam tidak berbalik menimpa mereka saat Guidetti tidak mampu memaksimalkan peluang dengan baik. Padahal jika dia bisa lebih baik saat itu, 99.99% gawang Romero akan kembali kebobolan dan Celta akan mencatatkan pencapaian terhebat dalam sejarah mereka melalui comeback khas Manchester United.

Saya akan menilai Mourinho sudah melakukan hal yang benar jika United memenangkan trofi Liga Europa dan memastikan jalan ke Liga Champions musim depan. Tapi andai ia, lagi-lagi, bermain menunggu dan bertahan padahal ada kesempatan untuk mendominasi pertandingan, maka apa yang dilakukan Mourinho tidak sepenuhnya bisa dikatakan benar.

Sekali lagi saya ingatkan, Mourinho sudah mengistirahatkan banyak pemainnya untuk menjuarai Liga Europa dan ketika saatnya tiba kau malah bermain bertahan, itu sungguh mengecewakan.

Sumber gambar; Dailystar.co.uk, Poskotanews.com

Tidak ada komentar