Breaking News

Peter Bosz dan Usahanya Membuat Borussia Dortmund Semakin Produktiv



KataKomentator - Borussia Dortmund telah menjatuhkan pilihan mereka kepada pria Belanda umur 53 tahun, Peter Bosz, untuk menjadi manajer tim selama dua tahun ke depan.

Berakhir sudah teka-teki mengenai siapa pelatih anyar Borussia Dortmund musim depan. Peter Bosz resmi ditunjuk untuk mengisi kursi kosong manajerial tim kuning hitam tersebut sepeninggal Thomas Tuchel yang dipecat di akhir musim kemarin. Kabar ini juga sudah dikonfirmasi oleh pihak Borussia Dortmund melalui sebuah kiriman di akun Twitter klub.

Seperti dilansir dari kiriman tersebut, Peter Bosz menandatangani kontrak dua tahun yang membuatnya akan bertahan di Signal Iduna Park sampai 30 Juni 2019.
Sebelumnya, laki-laki 53 tahun ini pernah melatih Vitesse Arnhem, Maccabi Tel Aviv, dan Ajax Amsterdam. Selama satu tahun kepelatihannya di Ajax, Bosz mengantarkan mereka menduduki posisi ke dua klasemen akhir Eredivisie 2016/17 (hanya kalah satu poin dari sang juara, Feyenord) dan runner-up Liga Europa setelah kalah dari Manchester United di laga final.

Menarik untuk melihat kiprah Borussia Dortmund bersama Peter Bosz nantinya. Di satu sisi, Dortmund sejak musim lalu skuad mereka sudah diisi oleh banyak nama muda seperti, Moussa Dembele, Christian Pulisic, Emre Mor, Julian Weigl, dan Mahmoud Dahoud yang baru akan bergabung musim depan. Sedangkan Bosz, seperti yang kita tahu, mampu melambungkan namanya berkat kemampuannya memoles bakat-bakat muda Ajax Amsterdam.

Selain itu, berkat dirinya pula, tim muda Ajax menjadi salah satu tim dengan produktifitas gol tertinggi di Eredivisie dan Liga Europa, catatannya 79 gol di Eredivisie (hanya kalah dari 86 gol Feyenord) dan 24 gol di Liga Europa (kalah dari Man. United, Genk, dan AS Roma yang masing-masing mencetak 25 gol).

Hal inilah yang sepertinya membuat manajemen Dortmund menjatuhkan pilihannya kepada sosok pria Belanda tersebut. Sebab jika melihat statistik Dortmund di Bundesliga musim lalu, sebenarnya kerja Thomas Tuchel tidak buruk-buruk amat, kok. Meskipun berakhir di peringkat ketiga, produktivitas gol mereka (72) hanya kalah dari Munchen (89) bahkan unggul dari RB Leipzig (66) di peringkat dua.

Jumlah kekalahan mereka juga lebih sedikit dibanding tim promosi tersebut. Lantas apa yang membuat mereka berakhir di posisi ke tiga? Jawabannya, karena hasil imbang yang mereka dapat. Faktor yang sama yang membuat TSG Hoffenheim duduk di peringkat ke empat klasemen akhir Bundesliga musim lalu, bahkan catatan kekalahan mereka lebih sedikit ketimbang Leipzig dan Dortmund.

Tercatat ada 10 kali imbang yang Dortmund alami musim ini, lebih banyak dari Munchen dan Leipzig yang sama-sama hanya memperoleh 7 kali imbang saja.

Hal ini seperti menandakan kalau produktivitas mereka di depan gawang tidak terbagi secara rata. Coba Anda lihat kembali kiprah Dortmund musim lalu, sesekali mereka memenangkan pertandingan dengan skor mencolok. Sangat mencolok. Tapi, di pertandingan selanjutnya, produktivitas gol tersebut tidak terlihat sehingga mengakibatkan mereka tidak bisa memenangkan pertandingan, alias kalah atau imbang.

Andai musim depan Peter Bosz mampu menunjukkan permainan menarik dan menyerang seperti yang dipertontonkan anak asuhnya di Ajax musim lalu, bisa diprediksi kalau Borussia Dortmund akan menjadi tim yang mematikan di Bundesliga musim depan. Bahkan bukan tak mungkin kalau nantinya mereka yang akan mengakhiri musim dengan gelar juara liga berkat produktivitas gol mereka di depan gawang lawan.

Sumber gambar; www.bvb.de

Tidak ada komentar