Breaking News

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Duel Ramos - Cuadrado



KataKomentator - Banyak yang menilai kartu merah yang diterima Cuadrado akhir pekan lalu buah dari kepintaran Ramos melakukan aksi teatrikal. Namun benarkah Ramos melakukan diving?

Liga Champions musim 2016/17 memang sudah berakhir. Sudah sekitar 5/6 hari berlangsung sejak Real Madrid memantapkan namanya sebagai penguasa kompetisi tertinggi antar klub Eropa ini dengan 12 trofi juaranya. Penggemar Madrid mungkin masih ada yang merayakan prestasi klub yang dibelanya tersebut walau hanya dengan mengunggah foto atau video ke story akun Instagram mereka. Sedangkan bagi penggemar Juventus, perlahan namun pasti, hasil akhir yang menyakitkan itu akan segera mereka lupakan. Sama seperti yang mereka lakukan dua tahun yang lalu.

Walau demikian, tidak mudah untuk melupakan setiap momen yang terjadi di laga final tersebut. Meskipun mustahil juga untuk mengingat semuanya. Tapi setidaknya, ada beberapa peristiwa yang membekas di ingatan para penonton pertandingan tersebut, yang salah satunya adalah momen “diving” Sergio Ramos.

Saat itu, tepatnya menit ke ‘83 Ramos meluncurkan tekel untuk menghalau bola yang mengarah ke Cuadrado. Tekelnya sangat ganas. Keras. Namun lugas. Wajar jika wasit tidak melihatnya sebagai sebuah pelanggaran meskipun Cuadrado harus tersungkur akibat tekel tersebut.

Drama pun dimulai dan semuanya berlangsung cepat. Cuadrado, yang sudah bangkit dari jatuhnya, melangkahkan kakinya bermaksud untuk kembali ke wilayah permainannya. Tapi tiba-tiba Ramos jatuh (atau menjatuhkan diri) sembari memegangi bagian ujung (jempol) kaki kanannya. Dia meringis kesakitan dan terus mengguling-gulingkan badannya di luar garis lapangan.

Marcelo berteriak ke arah asisten wasit dan sesekali menoleh ke Felix Brych, sang wasit utama, dengan tetap mengajukan protesnya. Protes pun diterima. Kartu merah segera dikeluarkan wasit asal Jerman tersebut dari saku celananya. Cuadrado harus rela bermain 17 menit saja di laga penting tersebut. Dia harus mandi lebih cepat dari rekan satu timnya yang lain.


Ramos Tidak Diving, Tapi Aktingnya Berlebihan

Sejak kejadian itu, perdebatan pun bermunculan. Banyak yang menganggap apa yang dilakukan Ramos adalah memalukan. Dia melakukan diving. Tapi tak sedikit pula yang menganggapnya sebagai hal yang benar. Bahwa Ramos tidak diving.

Tapi benarkah Ramos melakukan diving? Sepertinya tidak.

Di layar televisi, memang terlihat bahwa ada gerakan tangan Cuadrado ke arah punggung Ramos (lihat video di atas). Sekilas seperti Cuadrado sedang mendorong punggung Ramos. Jika yang mendapat “sentuhan” adalah bagian punggung, mengapa Ramos malah memegangi bagian jempolnya? Begitu, kan, gumam Anda?

Sebenarnya bukan “sentuhan” tangan itulah yang membuat Ramos tersungkur. Ada sebuah gerakan kaki dari Cuadrado yang bermaksud untuk “menjegal” kaki Ramos saat dia melangkah. Coba Anda lihat rekaman berikut ini.



Yang dilakukan Cuadrado memang benar, melangkah untuk kembali ke area bermainnya. Tapi dia punya niatan lain yaitu meluapkan emosinya kepada Ramos dengan cara “meyangkutkan” kakinya ke kaki Ramos yang juga akan melangkah.

Dalam hal ini mudah sebenarnya untuk menilai Ramos tidak diving. Ujung kakinya memang terkena injakan sepatu Cuadrado. Tapi akting yang dilakukannya saat terjatuh memang memalukan. Sebagai seorang bek tangguh berbadan besar, sulit rasanya mempercayai Ramos begitu kesakitan hanya karena “dijegal” seperti itu sampai ia harus berguling-guling sebanyak ± 3 kali putaran.

Tindakan “Needless” Cuadrado

Dalam sebuah kirimannya, akun Instagram Goal Global menyertakan caption bertuliskan “needless” yang artinya adalah “tidak perlu”. Tulisan tersebut dialamatkan pada sebuah foto yang memuat Cuadrado, Ramos, dan asisten wasit di dalamnya. Entah kepada siapa caption tersebut dituju, tapi setidaknya memang ada hal yang tidak perlu dilakukan pada sebuah momen yang ada di foto itu. Dalam poin ini saya menyoroti tindakan Juan Cuadrado.

A post shared by Goal (@goalglobal) on

Saat itu dia bermain sebagai pemain pengganti. Baru masuk menit ke ’66 sebelumnya. Massimiliano Allegri memilihnya agar bisa menekan pertahanan Madrid bagian kiri yang dihuni Marcelo. Syukur-syukur dia bisa menghadirkan asis atau bahkan gol, karena ketika itu timnya sedang tertinggal 1-3 dari Madrid.

Alih-alih membantu timnya untuk bermain lebih menyerang, Cuadrado malah diusir wasit. Penyebabnya pun sepele, sebenarnya. Hanya karena mengaitkan kakinya ke kaki Ramos saat dirinya (Cuadrado) berlaga hendak melangkah. Praktis bisa dikatakan kalau sejak saat itu, pertandingan sudah usai dan dimenangkan oleh Madrid.

Dia seharusnya lebih berhati-hati dan harus bisa mengontrol emosinya. Daripada meluapkan emosi pribadinya, nasib tim lah yang seharusnya dia pikirkan. Bisa dipahami kalau ini adalah pertandingan terbesar sepanjang karirnya menjadi seorang pesepakbola (musim 2014/15, Cuadrado masih bermain di Chelsea), dan menerima fakta bahwa tim yang dibelanya sedang kalah (dan kemungkinan besar akan kalah) adalah hal yang sangat sulit diterima oleh emosi.

Wajar jika dia langsung menerima kartu kuning pertamanya tak lama setelah dia masuk lapangan. Itu pun bukan suatu yang diperlukan rasanya jika melihat dia melancarkan tekel dari belakang saat dia sudah ketinggalan beberapa langkah dari Ronaldo.

Buntut dari Duel yang Sebelumnya Dimenangkan Cuadrado

Jika mau melihat lebih jauh lagi, sebenarnya kedua pemain tersebut sudah berduel di menit-menit sebelumya (menit ’80 tepatnya). Saat itu duel dimenangkan oleh Cuadrado. Ramos, yang menganggapnya bukan sebuah pelanggaran, memprotes kepada asisten wasit. Tapi asisten wasit tidak menggubrisnya dan tetap memberikan hadiah tendangan bebas kepada Juventus. Anda bisa melihatnya dalam video ini mulai sekitar menit 1:50.



Selang beberapa menit selanjutnya, duel pun kembali terjadi. Kali ini Ramos yang memenanginya. Seperti yang saya tulis sebelumnya, tekelnya lugas meskipun keras sehingga tidak dinilai sebagai pelanggaran. Saya meyakini bahwa tekel yang dilancarkan tersebut juga “bermuatan” emosi di dalamnya. Untung saja tekel tersebut tepat. Andai tidak, bukan tak mungkin justru Ramos yang akan dikartu merah.

Bisa dilihat dari video di atas, sesaat setelah melancarkan tekel, Ramos tidak langsung kembali mengawal pertahanan timnya melainkan ke arah asisten wasit sambil berkata-kata dengan raut muka kesal. Dia sepertinya masih tidak terima keputusan asisten wasit yang menganggapnya melakukan pelanggaran di duel sebelumnya.

Cuadrado juga emosi. Merasa “dikalahkan” oleh Ramos, dia melangkah sembari “mengaitkan” kakinya ke kaki Ramos. Alhasil, drama guling-guling Ramos dan kartu merah wasit menjadi tontonan setelah itu.

***

Jika masih sulit membayangkan bagaimana Ramos bisa jatuh tersungkur seperti itu, coba saja Anda melakukannya ke teman Anda. Arahkan kaki Anda ke sela-sela kaki teman Anda yang sedang berjalan dan lihat apa yang akan terjadi. Tanpa saya jelaskan pun, mungkin Anda pernah melakukannya, bukan? Atau bahkan menjadi korbannya seperti Ramos?

Tidak ada komentar