Ingatkan Saya Jika Saya S(K)alah
KataKomentator - Pria Skotlandia ini adalah salah satu manajer terhebat yang ada dalam buku sejarah Manchester United berkat prestasinya saat memimpin klub Manchester merah tersebut.
Menjadi seorang fans klub sepakbola pastinya memiliki satu (atau lebih) momen yang selalu diingat olehnya. Tak terkecuali bagi saya yang mencintai Manchester United, pasti banyak kenangan indah yang saya miliki mengingat hampir tiap tahun mereka memenangi gelar. Meskipun ada banyak musim yang fantastis, namun hanya satu musim yang tidak bisa saya lupakan adalah saat musim 2013/2014. Yap, musim dimana tahta kepelatihan The Red Devils sudah tidak lagi dipegang oleh sosok legendaris yang telah mengabdi selama ± 26 tahun, siapa lagi kalau bukan Sir Alex Ferguson. Baik, saya akan mulai menceritakan kenangan indah saya tersebut.
Mengidolakan Ferguson, karena kesuksesannya, merupakan hal yang wajar. Alasannya? Pasti Anda dan penggemar sepakbola lainnya mengetahuinya. Atau mungkin anda bisa googling di internet siapa manajer penyumbang trofi terbanyak di MU (singkatan Manchester United) dan berapa jumlah trofi yang dipersembahkannya. Terlepas dari itu semua, bagi saya MU musim 2013/2014 lah musim terbaik dalam sejarah klub yang bermarkas di Old Trafford itu.
Musim itu ditandai oleh terpilihnya manajer baru penerus Sir Alex Ferguson dengan durasi kontrak selama 6 tahun, seorang pelatih yang saat itu berusia 50 tahun, David Moyes. MU tidak asal pilih, mereka juga ingin meneruskan tradisi mereka untuk memiliki pelatih yang akan bertahan dalam jangka panjang di klub sehingga bukan tak mungkin akan muncul “Sir” ketiga dalam sejarah kepelatihan MU setelah Sir Alex Ferguson (26 tahun) dan Sir Matt Busby (24 tahun).
Ekspektasi saya (sebagai fans) sangat besar kepadanya. Selain karena sama-sama berpaspor Skotlandia dan menukangi Everton selama 11 tahun, yang membuat para fans MU (termasuk saya) membanding-bandingkannya dengan Ferguson, kabarnya Ferguson sendiri lah yang merekomendasikan nama suksesornya tersebut ke petinggi klub.
Menilik karir kepelatihan Moyes, sungguh terlihat bahwa dia adalah pelatih spesial. Dia memenangkan 3x LMA Manajer of The Year dan menjadikan Everton salah satu tim underdog di liga Inggris (4x berlaga di Liga Europa, 1x semifinal Piala FA, & finish peringkat 4 musim 2004/05). Saat di Preston North End saja, dia mampu menjuarai divisi dua liga musim 1999/00. Apalagi menukangi klub sebesar MU selama 6 tahun, pasti trofi akan berserakan di ruang penyimpanan Old Trafford saking banyaknya.
Tak percaya kalau Moyes hebat? Coba Anda googlingkembali, apa yang dia lakukkan pada MU musim 2011/2012 saat tim asuhannya mampu menahan imbang MU dengan 4 gol dan apa yang efek yang diterima MU karenanya.
Tidak ada keraguan sama sekali pada sosok Moyes. Coba lihat, hanya membutuhkan satu pertandingan resmi saja dia mampu menghadirkan trofi baru dalam wujud piala Community Shield. Sekali lagi, itu hanya satu pertandingan, bayangkan bagaimana kalau itu 6 tahun.
Soal aktivitas transfer, pemain yang dibeli Moyes juga tak kalah hebat dari pemain-pemain pembelian Ferguson. Saya sangat kagum terhadap strategi pembelian pemain yang dilakukan Moyes yang efektif dan efisien. Bagaimana tidak, selama 2 bulan masa bursa transfer musim panas yang diberikan UEFA, klub sebesar Manchester United hanya membeli dua pemain saja yaitu Guillermo Varela dan Maroune Fellaini. Memang saat itu MU tidak membutuhkan banyak pemain tambahan mengingat mereka masih memiliki skuat juara warisan Ferguson yang berisi pemain hebat macam Robin van Persie, Wayne Rooney, hingga David De Gea.
Menurut saya, pembelian Fellaini bukan merupakan panic buying namun strategi. Fellaini adalah pemain berbakat dengan skill tinggi, dan Moyes tau cara mengamankan tanda tangan pemain bintang satu ini. Moyes sengaja membeli pemain incarannya saat Deadline Day agar tidak ada klub peminat lainnya yang mampu memberi penawaran yang lebih menarik, sebab saat itu sungguh mepet Deadline.
Hanya dengan tambahan Fellaini saja (karena Varela tidak bermain di tim utama), MU menjadi klub yang sangat hebat. Kemenangan demi kemenangan dipersembahkan Moyes. Seingat saya, Fellaini berperan sangat penting atas prestasi MU pada paruh musim pertama. Dengan fisik yang menjulang tinggi dan visi bermain yang sangat baik, Fellaini mampu menyumbang 5 gol dan 7 assist hingga akhir Desember. Hal ini mampu membawa MU menduduki, kalau tidak salah, peringkat 2 di paruh musim.
Moyes mengulangi strategi belanjanya yang efektif saat jendela transfer musim dingin. Dia hanya membeli Juan Mata yang berposisi gelandang untuk membantu Fellaini membangun kreatifitas di lini tengah MU. Sayangnya, kehadiran Mata malah meredupkan sinar Fellaini saat itu sehingga dia tidak menambah catatan gol maupun assistnya hingga akhir musim.
Tak hanya urusan transfer, Moyes juga sangat ahli dalam hal mengeluarkan kemampuan terbaik seorang pemain. Coba saja Anda googlingjumlah gol MU hingga bulan April (pertandingan terakhir Moyes) yang mencapai 91 gol dan hanya kemasukan 24 gol. Sosok veteran semacam Rio Ferdinand dan Vidic mampu menjadi contoh baik bagi bek muda MU seperti Phil Jones dan Chris Smalling.
Bahkan, Rooney (akhirnya) mampu mencetak gol fenomenal dari tengah lapangan, seperti yang pernah dilakukan David Beckham, saat bertandang ke markas West Ham.
Soal prestasi? Jangan ditanya. Selain mempersembahkan sebuah trofi di pertandingan pertamanya dan membawa MU menempati peringkat 2 paruh musim, MU asuhan Moyes mampu berbicara banyak di level Eropa. Dia membawa MU hingga perempat final, setelah sebelumnya mampu mengeluarkan kemampuan terbaik RvP untuk mencetak Hattrick di kandang Olympiakos. Sungguh prestasi ini membuktikan Moyes pelatih yang spesial mengingat hal ini tidak dapat dilakukan Ferguson selama dua musim terakhirnya dan LVG dua musim setelahnya,
Yang paling saya sayangkan adalah keputusan manajemen MU untuk memecatnya di bulan April. Padahal, Moyes adalah pelatih jenius asal Skotlandia yang diharapkan para fans (termasuk saya) untuk menjadi “Sir” ketiga dalam sejarah kepelatihan MU. Dengan hanya memberi kesempatan selama ± 10 bulan dari 6 tahun kesepakatan kontrak awal, petinggi MU tidak tahu caranya berterima kasih atas jasa, prestasi, dan hasil baik yang dipersembahkan oleh The Chosen One.
Pemecatan Moyes sangat berdampak pada prestasi MU. Dibawah kepelatihan Ryan Giggs, mereka harus puas mengakhiri musim kompetisi tanpa trofi liga Inggris. Bahkan mereka terjerembab di posisi 7 klasemen akhir (posisi terburuk?). Saya yakin, andai saja Moyes menukangi MU sampai akhir kompetisi, pasti dia mampu mempersembahkan trofi kedua dalam setahun yaitu trofi Premier League. Sungguh tragis.
Namun, terlepas dari segala apa yang telah saya ceritakan di atas, saya hanyalah seorang fans, yang seperti Anda juga, mempunyai kenangan (entah manis atau pahit) dari klub yang dibelanya. Dan saya tetaplah manusia dengan berbagai kekurangan saya. Jadi, jika Anda mempunyai kenangan yang berbeda dengan saya, tolong ingatkan saya jika saya (k)salah.

Tidak ada komentar