Berimajinasilah Para Manajer!
KataKomentator - Mungkin ada sebagian dari teman kalian yang menganggap FPL (Fantasy Premier League) hanyalah sekedar permainan yang tidak perlu diseriusi. Tapi itu salah! Bukan begitu, manajer?
“Buset, serius amat sih sampe’ segitunya. Ini kan cuma permainan”
Ucapan ini sampai sekarang masih membekas di benak saya ketika siang itu salah seorang teman saya mengomentari saya yang terlalu serius bermain Fantasy Premier League atau biasa disebut FPL.
Bagi Anda yang belum tahu apa itu FPL, saya akan menjelaskannya secara singkat. Yap, FPL adalah permainan fantasy yang diluncurkan oleh pihak Premier League di mana pemain berperan sebagai seorang manajer/pelatih sebuah tim sepakbola miliknya. Setiap akun akan diberi uang total sebesar £100 untuk membeli 15 pemain yang akan mengisi skuad di timnya; 2 penjaga gawang, 5 pemain bertahan, 5 pemain tengah, dan 3 pemain depan.
Setiap pekan, kita harus menentukan 11 pemain yang akan kita mainkan pada Gameweek tersebut dan pemain-pemain ini nantinya akan mendapatkan poin sesuai dengan apa yang mereka tampilkan pada pertandingan yang sesungguhnya. Ada beberapa cara penilaian poin di FPL, seperti misalnya pemain akan mendapatkan poin 2 apabila dia dimainkan hingga menit ke 60’ atau seorang striker akan mendapatkan poin 4 apabila ia mampu mencetak satu gol, dan masih banyak lagi.
Kembali pada cerita saya. Saat itu saya sangat kebingungan menentukan pemain yang akan saya beli. Jujur, musim ini adalah musim pertama saya bermain FPL sejak awal musim. Banyak pertimbangan sudah saya lakukan, mulai dari melihat performa dan poin musim lalu, harga pemain, hingga lawan-lawan yang akan dijumpai di Gameweeks selanjutnya. Hal ini saya lakukan agar saya tidak salah memilih pemain dan terhindar dari penggunaan chip sedini mungkin. Tapi tiba-tiba, teman saya menyeletuk mengomentari apa yang saya lakukan. Baginya, saya terlalu menganggap serius hal ini padahal ini hanya permainan.
Bagi saya, selain merupakan permainan berimajinasi, FPL juga sebuah permainan seni “menebak”, dan menebak siapa yang akan mencetak gol, tim mana yang akan menang, kiper mana yang akan Cleansheet di Liga Premier Inggris bukanlah hal yang mudah. Lihat bagaimana Liverpool menang melawan Arsenal pada pekan pertama, namun kalah oleh tim promosi Burnley pada pekan kedua. Berharap kepada bintang musim lalu juga bukan merupakan jaminan. Duo Leicester, Jamie Vardy dan Riyad Mahrez, sejauh ini baru mengumpulkan total 3 gol dan 1 assist, sedang Dimitri Payet masih belum mencetak sebiji gol pun dan timnya baru mengemas satu kemenangan.
Jika dipikir-pikir, apa yang dikatakan teman saya ada benarnya juga. Ini adalah permainan berimajinasi menjadi soerang pelatih sepakbola. Mungkin dia berkata demikian karena dia sedang berimajinasi (berfantasi) menjadi seorang Tony Pulis. Manajer dengan tipe permainan pragmatis, yang mengandalkan pertahanan kokoh, adu fisik, dan umpan panjang dalam permainannya. Tak peduli sebagus apa taktiknya, yang penting adalah tidak kalah, namun juga bisa mendapat kemenangan. Hal itu juga yang sedang dilakukan teman saya. Dia sedang berpikir minimal, tapi berharap pemain-pemain pilihannya menghasilkan poin maksimal. Meskipun poin sedikit, yang penting tidak di bawah poin rata-rata. Ah, sungguh. Dia seperti Tony Pulis.
Sedangkan saya, saya sedang berimajinasi menjadi seorang Pep Guardiola. Dia adalah manajer hebat, penuh kerja keras, sedikit terlalu tegas kepada pemainnya, namun juga sangat memikirkan kepentingan timnya. Dia selalu memikirkan pertandingan demi pertandingan, tapi juga tidak lupa untuk memikirkan strategi untuk pertandingan selanjutnya sehingga tak jarang dia merotasi pemainnya.
Ada juga pemain yang timnya bernasib sama seperti Jurgen Klopp dan anak asuhnya. Mereka sekali waktu mampu menang dengan skor besar, tapi kalah saat melawan tim semenjana. Tipe manajer seperti ini mungkin hanya akan mendapatkan poin tinggi di satu Gameweek dan mendapat poin rendah di Gameweek selanjutnya.
Ada juga pemain yang penuh keberuntungan. Strateginya biasa-biasa saja, tapi poinnya luar biasa. Tipe manajer seperti ini ibarat Claudio Ranieri musim lalu yang permainannya tidak bagus-bagus amat tapi mampu menyabet gelar juara di akhir musim. Dia “beruntung” karena musim lalu tim-tim langganan Big Four sedang tidak menampilkan performa terbaiknya.
Dari semua tipe-tipe manajer di atas, sesungguhnya tidak ada yang salah satupun dari itu semua. Semua manajer punya tipe, strategi, dan caranya masing-masing untuk meramu sebuah tim agar mendapat hasil terbaik di akhir musim. Tidak mungkin seorang manajer dengan sengaja membuat strategi dengan tujuan agar timnya duduk di peringkat bawah, atau bahkan terdegradasi.
Begitu juga para manajer di game Fantasy Premier League (FPL) ini. Dari semua tipe pemain, mulai dari yang serius seperti saya, yang memikirkan permainan tiap minggunya, hingga yang membuka laman FPL seminggu sekali dan itu pun di hari Jum’at, mereka semua memiliki niat yang sama, yaitu berimajinasi menjadi seorang manajer di sebuah tim Premier League. Dan saya yakin kalau mereka juga punya tujuan yang sama yaitu mendapatkan poin setinggi mungkin di akhir kompetisi nanti.
Mengkritik teman Anda yang sangat serius bermain FPL? Boleh saja. Toh itu bagian dari gaya kepelatihan kan? Mungkin dia juga sedang berimajinasi menjadi seorang Jose Mourinho yang kerap melontarkan psywar kepada lawannya. Apalagi jika Chelsea FC, tim yang ditanganinya sebelumnya, bertemu dengan musuh bebuyutan yakni sang profesor, Arsene Wenger, dengan tim Meriam London-nya. Sebuah psywar memang kerap dilakukan oleh pelatih menjelang digelarnya sebuah pertandingan besar atau big match.
Jadi, silakan anda berimajinasi sesuka Anda. Bermainlah sesuai dengan gaya permainan Anda. Berimajinasilah para manajer, toh ini adalah permainan berimajinasi.

Tidak ada komentar