Awan Gelap yang Masih Tebal di Atas Kota Liverpool
KataKomentator - Periode buruk masih selalu menghantui Liverpool FC. Sejak pergantian tahun, mereka hanya memperoleh dua kemenangan saja sejauh ini. Mengenaskan.
Liverpool harus mengubur mimpinya bermain di Wembley untuk tampil di final ajang EFL Cup (Piala Liga) setelah kalah oleh Southampton di babak semifinal tadi malam. Gol pemain pengganti, Shane Long, di menit injury time memastikan anak asuh Claude Puel melenggang maju ke babak final untuk bermain melawan pemenang laga semifinal lainnya antara Manchester United/Hull City yang baru akan bermain Jum'at dini hari nanti.
Memainkan pertandingan leg kedua di kandang, Liverpool yang berhasrat mampu meraih kemenangan dan membalikkan agregat setelah kalah 0-1 di leg pertama justru tidak mampu memaksimalkan laga kandang tersebut. Sebenarnya Liverpool tidak memiliki modal bagus menjelang laga ini. Mereka menelan kekalahan 2-3 saat menjamu Swansea City akhir pekan lalu, yang sekaligus mematahkan rekor 17 kali kemenangan The Reds di Anfield. Hal yang berbeda dimiliki oleh Southampton. Mereka mampu menang telak 3-0 atas juara bertahan, Leicester City, di kandang sendiri.
Selain itu, catatan Liverpool saat menghadapi Southampton yang tidak terlalu baik juga turut menghantui mereka. Dalam 6 kali pertemuan terakhir, catatan kedua tim memang seimbang, yakni 2 kali kemenangan untuk Liverpool dan Southampton, dan 2 sisanya berakhir imbang. Namun 2 kemenangan dan 1 hasil imbang yang didapat Soton terjadi di 3 pertemuan terakhir mereka sejak akhir musim lalu.
Beberapa hal ini terbukti berimbas pada hasil akhir di pertandingan tersebut, di mana Liverpool gagal menang lagi melawan Southampton. Sedangkan bagi Soton, kemenangan ini membuat mereka mampu tampil lagi di final kejuaraan tertinggi sejak terakhir kali merasakannya tahun 2003 lalu.
Bagi Liverpool sendiri, kekalahan ini semakin memperburuk catatan mereka di tahun baru 2017 ini. Sejak pergantian tahun, total Liverpool telah menelan 6 kekalahan dari 7 pertandingan yang mereka jalani. Hal ini sungguh merupakan hal buruk bagi Liverpool. Absennya Sadio Mane yang memperkuat Senegal di ajang Afcon, tidak bisa digantikan perannya oleh pemain manapun. Bahkan kembalinya Philippe Coutinho dari cedera juga belum mampu mengangkat performa tim yang menurun belakangan ini.
Kegagalan The Reds untuk mencetak gol adalah petaka bagi mereka, sebab lini belakang mereka tidak terlalu kokoh. Perlu diketahui bahwa prestasi Liverpool yang sempat menghiasi peringkat 2 klasemen, tak lain tak bukan adalah berkat tajamnya lini serang mereka. Jadi meskipun kebobolan, andai penyerang mereka tetap mampu mencetak gol, maka mereka tak perlu khawatir. Hal ini turut diwarnai oleh kemampuan Loris Karius, yang awalnya diproyeksikan untuk mengganti Simon Mignolet sebagai kiper utama, malah justru sering melakukan blunder.
Hal lain yang patut disorot adalah performa Daniel Sturidge. Sturidge yang diberi kesempatan bermain sejak menit pertama (biasanya Divock Origi yang akan mengisi slot 3 pemain depan jika salah satunya tidak bermain) gagal memberi kontribusi positif untuk timnya. Seperti yang dikutip dari situs thisisanfield, pemain timnas Inggris tersebut tidak mencetak gol selama 287 menit sebelumnya, tapi justru mendapat kepercayaan penuh dari Klopp untuk bermain di posisi penyerang. Catatan tersebut bertambah menjadi 377 menit setelah dia tidak mampu mencetak gol ke gawang Forster.
Legenda Liverpool yang sekarang bekerja sebagai pandit di Sky Sports, Jamie Carragher, mengkritik pemain nomer 15 Liverpool tersebut usai pertandingan. "Ketika dia (Sturridge) bermain dan tidak mencetak gol, pada dasarnya mereka bermain dengan 10 orang karena dia tidak menawarkan apapun. Satu satunya alasan untuk memainkannya di tim adalah karena kemampuan finishing-nya, tapi dia tidak melakukan apapun di pertandingan saat ini."
"Dia sekarang adalah pemain yang sepenuhnya berbeda dibanding saat pertama kali datang bersama Brendan Rogers. Dia sering melakukan penetrasi di belakang pertahanan lawan dan dia memiliki kecepatan. Saya tidak tahu apakah kecepatannya telah hilang atau dia takut cidera, tetapi kecepatannya telah hilang. Yang dia lakukan saat ini hanyalah berjalan." tambahnya kepada Sky Sport.
Kekalahan demi kekalahan yang diterima Jurgen Klopp dan anak asuhnya akan menjadi penilaian bagi banyak pihak. Apakah musim mereka baik atau buruk. Sukses atau gagal. Juara atau tidak sama sekali. Apalagi mereka akan bermain melawan pemuncak klasemen sementara, Chelsea, di lanjutan Liga Inggris pekan depan. Kondisi anak asuh Conte yang jauh berbeda dibanding pertemuan pertama jelas akan memberi tekanan besar bagi Coutinho, dkk. Jika mereka kalah, maka bisa dipastikan mereka hanya menuai 2 kemenangan (jika akhir pekan nanti menang melawan Wolverhampton) di bulan Januari ini, itupun melawan tim divisi bawah (yang pertama melawan Plymouth Argyle tim divisi keempat Inggris) dan besar kemungkinan akan lebih menjauh dari gelar juara Liga Inggris yang selama ini sangat mereka idam-idamkan.
Sumber; whoscored, thisisanfield, goal, mirror, bbc



Tidak ada komentar