Manchester United (Memang) Tidak Pantas Menang
KataKomentator - Manchester United gagal meraih poin maksimal melawan Arsenal di kandang sendiri. Apa yang salah dengan anak asuh Jose Mourinho tersebut?
Partai besar liga primer Inggris pekan ke 12 antara Manchester United kontra Arsenal harus berakhir dengan hasil imbang 1-1. Pada pertandingan tersebut, gol tuan rumah dicetak melalui sontekan Juan Mata pada menit ‘68 dan kemudian dibalas Arsenal melalu sundulan pemain pengganti, Olivier Giroud, pada menit ’89.
Kedua tim memulai pertandingan dengan sama-sama tidak diperkuat beberapa pemain penting mereka. Di kubu tuan rumah, Zlatan Ibrahimovic, Wayne Rooney, Smalling, dan Luke Shaw tidak mengisi line up karena akumulasi kartu kuning dan cidera. Di satu sisi, Arsenal harus kehilangan bek kanan andalan mereka Hector Bellerin serta gelandang kreatif Santi Cazorla yang keduanya mengalami cidera beberapa saat lalu.
Sejak dimulai laga, Arsenal langsung berusaha menekan MU lewat pergerakan dinamis dan umpan pendek para pemain depan mereka. Hal ini terbukti efektif pada awal laga di mana mereka mampu menciptakan dua peluang meski pertandingan belum genap 10 menit. Sundulan Alexis Sanchez pada menit 5 masih melebar, sedangkan percobaan keduanya satu menit setelahnya mampu diblok pemain lawan.
Memasuki pertengahan pertandingan, permainan bola pendek Arsenal sudah mulai bisa dibaca oleh barisan gelandang MU. Hal ini tak lepas dari permainan kolektif para gelandang United, termasuk Mata dan Martial, yang menerapkan pressing ketat kepada para gelandang Arsenal sedini mungkin di lapangan tengah. Hal ini ditujukan agar mereka tidak bisa memainkan umpan pendek dan menciptakan peluang. Praktis hal ini memaksa Coquelin dan Elneny untuk melakukan tembakan dari luar kotak penalti karena rapatnya lapangan tengah United yang keduanya gagal menemui sasaran.
Foto heatmap perbandingan antara gelandang Manchester United dan Arsenal. Terlihat gelandang Arsenal tidak bisa memasuki wilayah akhir United. Sumber Whoscored.com
Begitu pula pada babak kedua, United masih menerapkan pressing di lini tengah dan memutus alur umpan Arsenal. Hal ini membuat mereka mencatat jumlah intersep jauh lebih banyak ketimbang lawannya, 24-15, serta jumlah loss of possesion (kehilangan bola) yang lebih banyak untuk arsenal yakni 25-32. Bahkan sepanjang 40 menit babak kedua Arsenal tidak menambah jumlah tembakan mereka sebelum akhirnya Giroud mampu mencatat shoot on target pertama pada pertandingan itu.
Keunggulan Arsenal dalam hal penguasaan bola dan jumlah umpan pun tidak bermakna apa-apa dalam pertandingan tersebut. Dilansir Whoscored.com, rerata umpan Arsenal lebih banyak berkutat di lini tengah dan pertahanan mereka sendiri ketimbang mengalir ke lini penyerangan mereka. Hal ini lah yang kemudian membuktikan bahwa lini tengah United yang bermain solid dan sulit ditembus.
Grafis perbandingan antara umpan pemain bertahan dan gelandang Manchester United dan Arsenal. Umpan Arsenal
lebih banyak berkutat di lini pertahanan dan lini tengah, bahkan sedikit sekali umpan dari gelandang Arsenal yang ke arah sepertiga akhir Manchester United.
lebih banyak berkutat di lini pertahanan dan lini tengah, bahkan sedikit sekali umpan dari gelandang Arsenal yang ke arah sepertiga akhir Manchester United.
Pertahanan Fantastis MU dan Lini Depan Arsenal
Sulitnya arsenal menciptakan peluang depan gawang De Gea tidak hanya karena permainan gemilang gelandang MU saja, namun juga barisan pemain bertahan mereka. Bahkan Mourinho tak segan untuk memuji kinerja empat bek saat itu.
Dengan kualitas yang dimiliki Sanchez, Ozil, Ramsey, dan Walcott, sangat tidak mungkin rasanya jika mereka tidak bisa menembus masuk ke sepertiga akhir wilayah MU. Beberapa kali usaha dribbling dari Sanchez dan Walcott mampu merepotkan lini pertahanan United. Tapi sekali lagi, pemain MU sangat disiplin saat bertahan. Duet Phil Jones dan Marcos Rojo mampu mengantisipasi kecepatan dan kreatifitas empan pemain depan The Gunners di mana mereka mampu mencatatkan masing-masing 12 dan 10 clearance pada laga itu.
Di pos bek kanan, Valencia tidak ketinggalan saat melakukan transisi dari menyerang ke bertahan sehingga tidak mampu dimanfaatkan Walcott karena tidak dibantu oleh pergerakan Nacho Monreal di belekangnya. Wajar saja ini terjadi karena di sisi tersebut Valencia sangat aktif membantu serangan menekan bek kiri tempat Monreal berada. Sedang pos Valencia sudah diisi oleh Jones atau Herrera saat Walcott menguasai bola tadi. Di sisi lainnya, Darmian tidak terlalu sering naik sehingga tidak menimbulkan banyak ruang kosong untuk dikuasai Aaron Ramsey.
Serangan United, Valencia, dan Ander Herrera
Pada pertandingan ini United memang terlihat bertahan dan menunggu serangan balik, tapi bukan berarti mereka tidak menekan lawan dan tanpa menciptakan peluang. Jika melihat perbandingan statistik antar kedua tim, MU lebih unggul dalam hal percobaan tendangan yakni 12 berbanding 5. Kelemahan Arsenal dalam pertandingan ini terletak pada kedua bek sayap mereka dan United mampu memanfaatkan hal ini.
Martial dan Darmian di sisi kiri permainan MU mampu menekan Jenkinson di pos bek kanan. Mereka sadar betul bahwa absennya Bellerin dan dimainkannya Jenkinson adalah celah untuk menyerang pertahanan Arsenal sebab kualitas Jenkinson yang tak sebagus Bellerin. Tengok saja pada babak pertama Martial mampu melepaskan dua kali tembakan dari sisi tersebut. Di sisi lainnya, pergerakan cair Mata yang lebih sering masuk ke tengah disertai kecepatan dan kekuatan fisik Valencia saat menyerang sungguh membuat Monreal kewalahan mengingat dia selalu kalah saat berduel dengan bek MU tersebut. Peluang yang dihasilkan Pogba juga berkat aksinya menembus sisi kiri pertahanan Arsenal.
Foto atas: grafis serangan Manchester United yang lebih banyak melalui sayap, baik kanan dan kiri.
Foto bawah: grafis serangan Arsenal yang kesulitan menembus lini tengah Manchester United.
Selain beberapa faktor di atas, Herrera berperan sangat penting pada pertandingan hari itu. Dia adalah pemain yang paling banyak bergerak dan paling “liar” di atas lapangan, saat menyerang maupun bertahan. Catatan jumlah intersep, jumlah operan, dan jumlah menyentuh bola miliknya adalah yang tertinggi di antara pemain MU lainnya, yakni 6 intersep, 71 operan, dan 95 kali sentuhan (sumber Whoscored.com). Kemudian jika kita lihat proses terjadinya gol Juan Mata, maka kita tidak akan terlepas dari tiga hal penting yaitu sisi sayap (kiri) pertahanan Arsenal, pergerakan liar dan assist Ander Herrera, dan yang terakhir gol Juan Mata hasil pergerakannya ke lini tengah.
Kesimpulan
Meski lini tengah United bermain solid dan mampu memutus umpan pendek Arsenal, lini belakang bermain fantastis, dan lini serang mereka mampu menekan pertahanan lawan dan kemudian mencetak gol, itu semua tidak berarti saat mereka tidak mampu memenangkan pertandingan. Wajar jika kemudian banyak pihak merasa kalau Mou dan anak asuhnya berhak dan pantas mendapatkan 3 poin.
Tapi perlu diingat bahwa sebelum menit ’89, Arsenal belum mencetak tendangan tepat sasaran satu pun dan De Gea belum sama sekali melakukan penyelamatan. Ini artinya De Gea belum sepenuhnya teruji pada pertandingan tersebut. Dan pada saat Giroud menanduk umpan Ox dan ternyata tepat sasaran untuk pertama kalinya -pada saat itu gelandang MU tidak bisa menghalau umpan yang menuju Ox, bek sayap kiri tidak ada pada posisinya, dan duet Jones-Rojo tidak bisa melakukan clearance dan kalah duel dengan Giroud- maka ikhlaskanlah gawang MU terpaksa harus kebobolan dan mereka (memang) tidak pantas menang.



Tidak ada komentar