Breaking News

Agresifitas Arema yang Mampu Balikkan Ketertinggalan dari Semen Padang


Arema FC berhasil mengalahkan Semen Padang pada semifinal Piala Presiden 2017 leg kedua di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, dengan skor telak 5-2. Cristian Gonzalez menjadi aktor utama di pertandingan ini berkat gelontoran 5 gol alias Quintrick yang dilesatkannya. Sementara Semen Padang hanya mampu mencetak dua gol masing-masing oleh Marcel Silva Sacramento menit ‘23 dan Vendri Mofu empat menit berselang.

Turun dengan susunan pemain terkuat, Arema langsung menyerang pertahanan lawan untuk segera mendapatkan gol cepat di awal laga. Namun usaha Arema untuk mencetak gol terkendala oleh strategi Semen Padang yang cenderung bertahan dan menyerang lewat serangan balik dari arah sayap.

Absennya dua pemain reguler di sebelah kiri pertahanan Arema (bek kiri, Johan Alfarizi, dan bek tengah sebelah kiri, Bagas Adi) betul-betul berdampak buruk bagi mereka. Dua gol yang dilesakkan oleh Marcel Sacramento dan Vendri Mofu sama-sama berasal dari sisi sebelah kiri tersebut.

Meskipun kemasukan dua gol terlebih dahulu, Arema ternyata mampu memenangkan petandingan dengan skor besar. Berikut beberapa faktor utama kemenangan Arema atas Semen Padang setelah sempat ketinggalan dua gol.

Kehadiran Cristian Gonzalez Sebagai Target Man dan Eksekutor Handal Arema

Seperti yang kita ketahui bahwasanya lima gol yang dilesakkan Arema semuanya tercatat atas nama Cristian Gonzalez. Seperti yang sering dikatakan oleh komentator sepakbola Indonesia, Cristian Gonzalez mampu memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk mengubahnya menjadi sebuah gol. Meskipun usianya sudah memasuki angka 40 tahun, tapi positioning dan kemampuannya mencetak gol tetap terjaga dengan baik.

Pada gol pertama, ketiga, dan keempat menunjukkan keahlian Gonzalez dalam mencari dan menempati ruang di antara dua bek tengah lawan. Gol pertama adalah buah umpan dari Felipe Bertoldo yang melihat dirinya berada di area kosong antara Novrianto dan Cassio de Jesus. Meskipun peluang terjadinya gol sangat sempit, dikarenakan kiper lawan sudah maju menutup ruang tembak, sang striker tetap bisa mengonversikannya menjadi gol.

Meskipun pada akhirnya, beberapa pihak menyayangkan atas disahkannya gol Gonzales tersebut karena dinilai sudah lebih dulu berada pada posisi offside.

Gol ketiga dan keempat juga hampir sama sebenarnya, di mana ia mampu mencari celah di antara dua pemain belakang lawan. Meskipun pada proses gol ketiga Gonzalez tidak “secara langsung” mencetak gol.

Sedang untuk gol kedua, dia membuktikan bahwa kemampuan finishingnya masih sangat berbahaya. Dalam skema tendangan bebas, alih-alih menendang bola melewati pagar betis, dia justru menendang bola dengan datar dan mengarahkannya ke tiang jauh. Kualitas dan kemampuan Gonzalez inilah yang membuat Arema berhasil mencetak lima gol di pertandingan ini.

Intensitas Serangan (Sayap) Arema dan Ditariknya Novan Sasongko

Sempat kemasukan dua gol tandang benar-benar membuat Arema dalam tekanan besar. Mereka harus mampu mencetak minimal 4 gol jika ingin melenggang ke partai final. Untungnya, mereka tidak berputus asa setelah dua gol tersebut dan tetap bersemangat untuk mengejar ketertinggalan. Semangat juang inilah yang akhirnya berbuah dua gol dalam durasi tiga menit saja dan hanya berjarak dua menit setelah gol Vendri Mofu. Tiga gol lainnya dicetak pada babak kedua memanfaatkan celah di sisi kanan Semen Padang.

Sempat kesulitan melewati bek sayap Semen Padang, para pemain sayap Arema akhirnya berhasil mengeksploitasi wilayah tersebut, khususnya sebelah kiri area penyerangan mereka setelah Novan Sasongko ditarik keluar karena cidera. Kehadiran Esteban Vizcarra di sayap sangat merepotkan bek kenan tim tamu. Dia selalu menarik perhatian pemain lawan agar menghasilkan ruang kosong yang bisa dimanfaatkan pemain lainnya. Terlebih, di area itu, Syaiful Indra kerap maju untuk membantu menyerang.

Melihat tensi permainan yang semakin cepat, pelatih Aji Santoso memasukkan penyerang muda, Dedik Setiawan, menggantikan Felipe Bertoldo yang pergerakannya mulai melambat. Dipasangkan berduet dengan Gonzalez di lini depan, Dedik lebih sering menyerang melalui area sayap guna memanfaatkan kecepatan yang dimilikinya.

Tak ayal hal ini semakin menambah derita pemain bertahan Semen Padang, bek kanan khususnya, karena harus berduel dengan pemain-pemain yang memiliki kecepatan dan kemampuan olah bola mumpuni.

Akibatnya sisi kanan pertahanan Semen Padang menjadi bulan-bulanan pemain Arema dan akhirnya membuahkan gol ketiga, hasil kreasi umpan lambung Syaiful Indra di sisi kanan pertahanan lawan, dan gol keempat, hasil umpan Dedik yang juga dari arah yang sama.

Semen Padang yang Sudah Terlanjur Bermain Bertahan

Tak bisa dipungkiri memang kalau pada pertandingan tadi malam Semen Padang bermain sangat dalam. Mereka menunggu pemain Arema masuk ke wilayah mereka dan kemudian melancarkan serangan balik lewat sisi lapangan saat mendapatkan bola. Hal ini wajar saja sebenarnya mengingat mereka bermain di kandang lawan dan sudah mengantongi keunggulan satu gol di leg pertama.
Strategi ini pun tidak bisa dibilang gagal melihat mereka malahan yang mencetak gol lebih dulu. Dua gol bahkan. Dengan dua gol tandang maka Arema setidaknya harus bisa mencetak empat gol dan tidak kebobolan gol lagi untuk maju ke final (3 gol saja tidak cukup untuk Arema karena akan kalah oleh perolehan gol tandang).

Tapi memilih bertahan dan tak melakukan pressingdi sepertiga tengah lapangan di kandang lawan -dengan atmosfer dukungan pendukung tuan rumah yang begitu hebat serta “kengototan” pemain Arema untuk mencetak gol- adalah hal yang sangat beresiko.

Resiko itu pun terjadi saat momentum berada di pihak Arema di mana pemain Semen Padang tak sanggup keluar dari tekanan karena mungkin terlanjur diinstruksikan hanya untuk bermain bertahan dan melancarkan serangan balik. Sehingga saat kedudukan 3-1 (agregat 3-3), Semen Padang tidak memiliki opsi lain kecuali tetap bertahan sedangkan Arema berhasil menciptakan gol pamungkas pembalik agregat pada menit ke ’83.

Sumber foto; @bolalob

Tidak ada komentar